Film  

“Women Talking” disebut punya urgensi untuk diangkat ke layar lebar

Jakarta (ANTARA) – Sutradara dan penulis skenario Sarah Polley mengatakan dirinya merasakan urgensi terhadap kisah pemerkosaan pada perempuan dan bagaimana upaya mereka untuk bangkit kembali untuk ditampilkan di layar lebar melalui film “Women Talking”.

Film tersebut ditayangkan di Festival Film Internasional Toronto yang digelar hingga Minggu (18/9). Berdasarkan buku karya Miriam Toews, “Women Talking” memotret kisah para perempuan dari komunitas Mennonite.

Para perempuan di “Women Talking” menghadapi serangkaian peristiwa pemerkosaan sistematis yang dilakukan oleh laki-laki di komunitas. Mereka pun dihadapkan pada pilihan-pilihan, apakah tidak melakukan apapun, melawan dan bertahan tinggal di komunitas, atau meninggalkan komunitas.

Baca juga: Colin Farrell & Blanchett raih pemeran terbaik Festival Film Venesia

Polley mengaku buku karya Miriam Toews tersebut membawanya kepada salah satu pengalaman membaca paling intens yang pernah ia alami.

“Dalam buku ini mereka berbicara tentang apa yang ingin mereka bangun, bukan hanya apa yang ingin mereka hancurkan,” kata Polley seperti dilaporkan Reuters pada Selasa (13/9) waktu setempat.

Para aktor juga mengaku mendalami kisah “Women Talking” merupakan pengalaman yang intens bagi mereka. August Winter mengatakan peristiwa yang dialami para perempuan dalam film dapat terjadi sepanjang waktu tanpa disadari dan banyak orang memberi perhatian setelah hal itu dibicarakan.

“Saya pikir hal-hal ini terjadi sepanjang waktu tanpa kita sadari, dan baru setelah kita mulai membicarakannya, hal itu menjadi perhatian kita. Bahkan di dunia sekarang ini di mana ada begitu banyak media, ada begitu banyak hal yang masih kita lewatkan,” katanya.

Selain Winter, karakter-karakter dalam “Women Talking” turut dimainkan oleh sederet bintang ternama seperti Rooney Mara, Claire Foy, Jessie Buckley, Ben Whishaw, hingga Frances McDormand, dan seterusnya.

Sinematografer Luc Montpellier mengatakan “Women Talking” dibuat dengan menggunakan teknik pewarnaan dengan saturasi yang rendah yang diharapkan dapat menyampaikan pesan dari peristiwa yang terjadi di komunitas tersebut.

“Kami datang dengan palet desaturasi yang sangat gothic, yang diharapkan dapat mengomunikasikan hal itu, seperti aktor pendukung,” katanya.

Polley mengatakan cerita “Women Talking” akan selalu relevan, tetapi menurutnya pembicaraan di publik saat ini mulai membaik dalam hal tentang masalah kekerasan seksual dan mau mendengarkan kasus tersebut.

“Percakapan yang telah terjadi selama beberapa tahun terakhir, mereka tidak ke mana-mana. Maksud saya, apakah dunia telah berubah sebanyak yang kita inginkan? Tentu saja tidak. Dalam banyak hal itu mundur,” katanya.

“Tapi saya pikir semakin kita memiliki bahasa untuk menyampaikan banyak hal, semakin kita melakukan percakapan ini, semakin kita menemukan kata-kata untuk sesuatu yang sulit diartikulasikan, menurut saya itu merupakan jalan,” kata Polley lagi.

Baca juga: Ethan Hawke berduka atas kepergian Godard di Festival Film Toronto

Baca juga: “Mencuri Radeh Saleh” masuk lima nominasi Festival Film Bandung

Baca juga: Film Kazunari Ninomiya “Arashi” buka Festival Film Tokyo ke-35

Penerjemah: Rizka Khaerunnisa
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
COPYRIGHT © ANTARA 2022