Film  

Isu universal jadi syarat agar film lokal disukai global

Jakarta (ANTARA) – Sutradara Joko Anwar dan Kamila Andini berbagi pengalaman tentang membuat film yang dapat dinikmati dan relevan dengan penonton global meski berlatar belakang khas lokal.

“Film yang bisa dinikmati oleh orang luar di tempat dia dibuat adalah yang memiliki cerita universal tapi diceritakan berdasarkan sudut pandang di mana film itu dibuat,” ujar Joko dalam acara Netflix “On The Scene: The Present and Future Film” di Jakarta, Jumat.

Lebih lanjut, Joko menjelaskan sudut pandang yang spesifik di mana film dibuat oleh merupakan salah satu bagian terpenting. Walau karakter, bahasa dan dinamika kehidupan yang ditampilkan khas Indonesia, bila isu yang diangkat bersifat global akan mengena bagi penontonnya.

Baca juga: “Before Now and Then” raih film terbaik di APSA

Menurut Joko ada dua manfaat menggunakan sudut pandang yang spesifik yakni, menjadi refleksi bagi penonton Indonesia untuk mencari solusi dari isu yang ada, sedangkan untuk penonton global bisa membuka buah pemikiran baru untuk menyelesaikan masalah.

“Kayak ‘Parasite’, itu tentang kemiskinan dan kemiskinan terjadi di seluruh dunia tapi pakai sudut pandangnya Korea Selatan. Masalahnya memang beda tapi itu membuat kita mendapat bahan pemikiran,” kata sutradara “Pengabdi Setan” itu.

Kehadiran platform streaming telah membuat sebuah film bisa disaksikan oleh seluruh dunia. Oleh karenanya, penting untuk memiliki teknik yang baik dalam pembuatannya.

“Untuk bisa dianggap di pasar internasional, mau enggak mau gara-gara streamer semua bisa melihat film kita, jadi standarnya juga harus bagus. Kita udah enggak bisa bikin film yang tekniknya enggak bagus,” ujarnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Kamila Andini, bahwa isu global sangat dekat dengan penonton di mana pun.

Kamila memberikan contoh, film “Yuni” yang digarapnya pada tahun 2021 mengangkat isu tentang pernikahan di bawah umur. Masalah ini tidak hanya terjadi di Serang, Banten saja tapi juga beberapa provinsi di Indonesia, bahkan India, Malaysia hingga Thailand pun mengalaminya.

“Isu pernikahan di bawah umur kan masih terjadi sehingga saya yakin itu bisa relate dengan banyak orang,” ujar Kamila.

Menurut Kamila, pembuat film juga harus menyadari bahwa dunia sinema selalu berkembang dan terbarui. Oleh karenanya, para sineas diharapkan mampu bergerak dinamis seiring dengan berjalannya waktu.

“Penting bagi filmmaker kita untuk tahu sudah sampai mana sinema bergerak, kebaruan apa yang dilakukan di dunia sinema. Kita selalu melihat ke Hollywood, padahal di Asia Tenggara ada Thailand, di Asia ada Korea,” kata sutradara “Before, Now & Then (Nana)” itu.

“Jadi ketika kita membuat film, kita tahu apa yang kontekstual dengan pergerakan ini,” lanjutnya.

Baca juga: Joko Anwar hingga Chelsea Islan bagikan kisah pembuatan seri “Tira”

Baca juga: Joko Anwar isyaratkan ada “Pengabdi Setan 3” dengan sejumlah syarat

Baca juga: “Living The Silent Dream” karya anak bangsa masuk festival PAAFF

Pewarta: Maria Cicilia Galuh Prayudhia
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
COPYRIGHT © ANTARA 2022